Intip Kondisi Lapangan Driver Grab di Kota Madiun

By | 4 November 2019

Pekerjaan menjadi driver ojek online sekarang sudah banyak diminati masyarakat. Tidak hanya mereka yang sudah berumahtangga atau sudah waktunya memiliki pekerjaan, tetapi kalangan mahasiswapun tidak mau kalah dalam memanfaatkan pekerjaan ini.

Tidak jarang para driver ini menjadikan ojek online sebagai pekerjaan sambilan saja. Kemudahan dalam mendaftar menjadi salah satu faktor kenapa pekerjaan driver ojek online menjadi pilihan. Termasuk saya.

Pertama Kali Mendaftar Grab

Saya Ema, 24 tahun. Saya mendaftar menjadi driver ojek online pada pertengahan tahun 2018. Saat itu saya sedang menunggu panggilan pekerjaan. Sembari waktu senggang saya banyak, saya memutuskan untuk iseng-iseng mendaftar kan diri menjadi driver Grab.

Awalnya saya tidak yakin, karena saya perempuan dan ada sedikit rasa malu. Saya merasa driver perempuan selalu menjadi sorotan setiap orang. Pasti rasanya tidak nyaman apabila setiap kali saya kemudian orang-orang akan berkomentar dalam hati “drivernya cewek”. Tapi pada akhirnya saya tetap mendaftar.

Proses Pendaftaran

Hari itu saya pergi ke kantor Grab untuk menanyakan persyaratan dan alur pendaftaran sebagai driver Grabbike. Petugas front office menyampaikan bahwa persyaratan dokumen berupa KTP, SIM, STNK, dan SKCK, serta sepeda motor minimal tahun 2008.

Setelah persyaratan saya lengkap, saya kembali ke kantor Grab. Proses pendaftaran sangat cepat. Semua dokumen yang disertakan adalah asli untuk difoto oleh admin Grab. Hanya menunggu 15 menit di depan meja admin, nama saya sudah terdaftar menjadi driver grab Madiun Kota.

Kemudian saya diminta untuk mengikuti petunjuk dan pelatihan online menjadi driver Grab. Pelatihan ini dapat dilakukan di mana saja, tidak harus di kantor Grab. Tanpa pikir panjang, sayapun langsung pergi ke café terdekat untuk mengikuti pelatihan online ini. Kurang lebih selama dua jam saya menyimak dan menjawab beberapa soal terkait menjadi mitra Grab.

Pelatihan Online

Setelah selesai mengikuti pelatihan online, saya kembali ke kantor Grab untuk verifikasi. Kemudian salah satu admin membawakan saya jaket dan helm hijau khas Grab.

Seketika saya merinding karena saya benar-benar resmi menjadi driver grab yang awalnya saya ragukan itu. Kemudian saya foto menggunakan jaket Grab untuk dipasang di aplikasi Grab driver saya. Pikir saya, wow!.

Pesan Admin

Sesaat sebelum saya pulang dari kantor Grab hari itu, salah satu admin berkata pada saya,

“Jaketnya dipakai, biar orang-orang kenal Grab”.

Sayapun merasa heran apa maksudnya, bukankah masyarakat sudah mengenal Grab di Madiun, bukankah driver Grab di Madiun sudah banyak, itu artinya masyarakat banyak yang menggunakan aplikasi Grab, kan.

Kemudian admin itu berkata lagi, “Driver sih banyak, tapi konsumen sedikit, ya sama saja”. Seketika itu juga saya merasa bingung. Lagsung terlintas firasat kurang menyenangkan di benak saya.

Hari Pertama Narik

Esoknya saya bersiap untuk menjalani hari pertama sebagai driver Grab. Saya memilih pergi ke kantor Grab dan mengobrol dengan petugas front office sembari menunggu pesanan.

Setelah hampir 4 jam saya chit-chat di kantor Grab, sayapun mendapat pesanan pertama saya. Sering lupa nama tempat dan jalan di area Madiun membuat saya sedikit gelagapan.

Setelah mengantar pelanggan pertama saya, saya menerima ongkos perjalanan sebesar Rp 4.000,- dan tip Rp 1.000,-. Kemudian saya kembali ke kantor Grab dengan perasaan yang aneh karena ini pengalaman pertama saya.

Jam menunjukkan hampir sore dan saya belum mendapat pesanan lagi. Saya merasa malu sendiri hanya duduk-duduk di sini dan sepi pesanan.

Sayapun memutuskan pergi ke café dan menunggu di sana. Rupanya sampai senja menjelang, aplikasi saya tetap tak berdering. Lalu saya putuskan pulang. Itu adalah hari pertama saya menjadi driver Grab. Penghasilan saya di hari pertama itu adalah Rp 5.000,-.

Hari kedua, saya memutuskan pergi ke tempat yang agak jauh dari kota. Meskipun saya tahu bahwa area yang ramai dapat dilihat dari aplikasi, tapi semua area tidak ada yang berwarna kuning, apalagi merah, semuanya hijau, bahkan putih.

Artinya hampir semua area di Madiun sepi pelanggan. Hari kedua itu saya mendapat 6 pesanan sekaligus. Lalu di hari ketiga hanya dua pesanan. Tapi malamnya saya menerima pesanan makanan.

Barulah saya sadar kalau selama ini saya belum pernah melihat outlet mana saja yang bekerjasama dengan Grabfood. Kemudian saya buka aplikasi Grab pelanggan dan melihat menu Grabfood. Saya kaget karena hanya ada 4 outlet yang muncul. Berkali-kali saya refresh tetap saja hanya 4 outlet tersebut pilihannya. Saya tidak tahu harus bingung seperti apa.

Kenyataan Lapangan

Di hari selanjutnya saya memutuskan untuk menunggu pesanan di kantor Grab lagi. Seperti biasa, kantor Grab ramai dikunjungi orang, baik driver maupun pendaftar baru.

Lalu seseorang menyapa saya. Kami berkenalan dan sudah saya duga kalau dia akan kaget mengetahui saya adalah driver, karena saya perempuan.

Dia mengajak saya berkumpul di basecamp dekat terminal Madiun. Karena perbincangan kami cukup lama, sayapun memberanikan diri bertanya padanya seputar kondisi lapangan Grab di Madiun. Dengan singkat dia menjawab,

“Ya, memang kalah dari Gojek. Orang Madiun udah kenal Gojek duluan”.

Kalimat itu sudah sangat jelas menjawab apa yang saya bingungkan selama menjadi driver. Karena di hari-hari selanjutnya saya tidak pernah mencapai bonus harian. Tidak kaget lagi kalau dalam satu hari saya tidak mendapat pesanan.

Atau mendapat pesanan tapi bukan saya yang menyetir, melainkan pelanggan yang memboncengkan saya. Alasannya tentu karena saya perempuan, “Masa cewek boncengin laki-laki” kata kebanyakan pelanggan. Setelah dua bulan penghasilan saya selama menjadi driver kurang lebih ada Rp 300.000,- dari cash mapun dompet tunai. Jumlah ini sangat jauh dari perkiraan saya.

Di bulan selanjutnya saya sering tidak mengaktifkan aplikasi driver saya. Kemudian semakin lama saya tidak mengaktifkannya kembali. Saya sudah mendapat panggilan kerja yang saya tunggu sembari menjadi driver Grab. Lalu saya tidak tinggal lagi di Madiun.

Grab Madiun Sekarang

Selama saya tidak pulang ke Madiun, saya sering mengaktifkan aplikasi Grab Driver saya hanya sekedar untuk mengecek apakah masih aktif atau tidak, bukan untuk beroperasi. Hingga akhirnya saya kembali pulang ke Madiun. Sayapun mengaktifkan akun saya.

Nampak pada peta bahwa area Madiun sudah ramai pelanggan, meskipun warnanya masih hijau. Lalu outlet grabfood yang dulu hanya ada 4, kini sudah bertambah sangat banyak, mungkin malah sudah menjangkau semuanya. Kantornya juga sudah berpindah ke tempat yang lebih besar.

Sepertinya Grab di Madiun sudah semakin maju dan dikenal masyarakat. Sepertinya pendapatan saya kali ini akan lebih banyak kalau saya aktif kembali menjadi driver Grab Madiun.

Tapi tidak. atau mungkin suatu saat nanti. Atau mungkin akan saya pakai lagi di luar kota sembari saya bekerja. Belum saya pikirkan. Lalu bagi driver Grab Madiun sekarang, semoga sejahtera selalu. Salam satu aspal!

One thought on “Intip Kondisi Lapangan Driver Grab di Kota Madiun

  1. Hanif Oktavianto

    Permisi, saya Hanif Oktavianto dari Madiun, ingin bertanya, apakah pendaftaran grab di kota Madiun masih dibuka hingga saat ini 5 November 2019? Terima kasih. Wassallamu’alaikum Wr. Wb.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.